KASUS DBD DIINDONESIA MERAJA LELA!! KITA HARUS APAA??!!


Kasus DBD 2024 di Indonesia melonjak, sejak bulan maret kasus DBD terbanyak berada di Jawa Barat sebanyak 10.428 dan 94 meninggal. Kemenkes RI mengatakan ada 35.556 jiwa dengan 290 kematian yang disebabkan oleh DBD. 


Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Imran Pambudi mengatakan perubahan iklim 2024 memicu kasus DBD kembali meningkat.  "Perubahan iklim tidak hanya membebani pelayanan kesehatan, karena membuat kasus semakin naik, tetapi kami juga menimbang bahwa perubahan iklim akan membebani sistem kesehatan," ujarnya.


Kasus DBD di Indonesia ternyata meningkat pesat bila dibandingkan tahun 2023. Kemenkes mencatat, hingga pekan ke-16 di 2024, sudah ada 76.132 kasus.

Kabiro Humas Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengungkap data perbandingan. 

Berikut detailnya:

Jumlah kasus: 76.132

Jumlah kematian: 540


Kabiro Humas Kemenkes Siti Nadia Tarmizi juga menyatakan, membludaknya kasus DBD di Indonesia dipicu oleh banyak faktor. Dua di antaranya, faktor cuaca akibat musim pancaroba yang menyebabkan potensi sarang nyamuk bertambah serta kurangnya kesadaran masyarakat soal pemberantasan sarang nyamuk.


"Pada periode yang sama di minggu 16 tahun 2023 jumlah kasus DBD sebanyak 25.050 kasus dengan kematian sebanyak 180 kematian," tutur Nadia melalui pesan singkat.


Dia menjelaskan terdapat 5 kabupaten atau kota dengan kasus DBD tertinggi selama 2024, yaitu dipimpin oleh Kabupaten Tangerang dengan 2540 kasus. 


Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue. Nyamuk ini identik dengan musim hujan di daerah tropis atau subtropis di dunia.




Gejala penyakit DBD mirip dengan gejala flu, seperti demam tinggi hingga 40 derajat Celcius, sakit kepala, nyeri otot, dan nyeri di belakang mata. Namun, jika tidak ditangani dengan cepat, DBD dapat menjadi lebih parah hingga menyebabkan pendarahan serius, penurunan tekanan darah secara tiba-tiba (syok) dan bahkan kematian.


Ada beberapa tantangan dalam penanganan DBD, di antaranya kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini dan kurang optimalnya budaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN), efek dari kondisi cuaca yang tidak menentu seperti hujan yang menyebabkan genangan air dan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti juga memengaruhi kenaikan kasus DBD ini. 


Menurut saya, kita harus peduli dengan musim sekarang ini karna biasanya di musim pancaroba kita rentan terkena penyakit. Salah satunya adalah DBD maka dari itu sebaiknya kita saling menjaga satu sama lain dengan mengupayakan adanya fogging berkala di sekitar pemukiman tempat tinggal warga. 


Komentar